Jumat, 12 Desember 2014

Budaya Erong Di Tana Toraja


        I.            Pendahuluan

Indonesia sangat dikenal dengan keanekaragaman suku, adat isiadat dan budaya, semua itu dikarenakan Indonesia terdiri dari beberapa pulau yang menyebar dari sabang hingga marauke. Indonesia sangat kaya akan budayanya, salahnya masyarakat Indonesia justru jarang sekali mengenal dan mendalami kekayaan budayanya sendiri. Masyarakat Indonesia justru akan lebih berbangga hati jika mereka lebih mengenal kebudayaan luar negeri dibanding budaya mereka sendiri. Budaya Indonesia yang sangat unik salah satunya adalah di tana toraja, tana toraja sangat menarik bagi wisatawan yang berkunjung, dikarenakan tana toraja memilik budaya-budaya yang sangat unik. Salah satunya adalah budaya penguburan wadah kayu yang disebut erong di tana toraja. Di tana toraja,  Sulawesi Selatan, tradisi megalitik masih berlanjut hingga sekarang. Tradisi megalitik ialah secara etimologi berasal dari kata mega yang berarti besar dan lithos yang berarti batu. Namun menurut F.A Wagner (1959) megalitik yang selama ini diartikan sebagai batu besar, di beberapa tempat akan membawa konsep keliru, objek batu yang lebih kecil dan bahan-bahan dari kayupun harus dimasukkan ke dalam klasifikasi megalitik. Bila benda itu khas dipergunakan untuk tujuan yang sakral yakni pemujaan terhadap nenek moyang (Wagner, Fritz A, 1959 dalam Somba, 1999:7). Kebanyakan dari masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan terhadap hubungan antara yang hidup dengan yang mati yaitu para leluhur mereka. Banyak tinggalan-tinggalan arkeologis yang merupakan tinggalan tradisi megalitik tersebar di Tana Toraja seperti menhir, wadah kubur kayu, dan liang (tempat penguburan). Tinggalan-tinggalan di tana toraja sendiri merupakan tinggalan yang unik. Terutama sistem maupun lokasi penguburannya yang berada di tebing yang dilubang dan bentuk dari wadah kubur kayunya yang sangat unik. Semuanya tersebar hampir diseluruh wilayah Tana Toraja. Dengan persebarannya yang merata dan memiliki keunikan tersendiri, kasus-kasus mengenai sistem penguburan, tempat penguburan maupun wadah kuburnya merukapan sesuatu yang menarik untuk dibahas.  Kasus-kasus seperti keletakan dari wadah kayu Toraja serta bagaimana kaitannya dengan konsep kepercayaan masyarakat Toraja akan coba saya bahas pada makalah ini. Semua tentang bentuk keranda erong masyarakat Toraja yang mendiami Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Tana Toraja Utara. Hal yang membuat saya sebagai penulis mengambil bahasan tersebut karena bentuk penguburan wadah kayu yang hampir punar dikarnakan faktor alam dan faktor dari manusianya itu sendiri.

















      II.            Pembahasan
Walaupun pada umumnya masyarakat suku Toraja saat ini sudah menganut agama Kristen ataupun agama Islam. Tidak sedikit masyarakat yang berada di Tana Toraja yang masih mempercayai kepercayaan yang disebut Aluk Tolodo atau alukta. Dasar dari kepercayaan Alukta adalah kepercayaan terhadap arwah leluhur, yaitu kepercayaan yang selalu berdasarkan kepada hubungan antara yang hidup dan mati terutama kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari orang yang telah mati terhadap keberhasilan dan kesejahteraan orang yang masih hidup, demikian pula sebaliknya keselamatan arwah di alam puya (arwah) sangat ditentukan oleh perlakuan sesuai dengan aturan adat dari sanak-kerabat yang ditinggalkannya. Sebagai implementasi dari kepercayaan tersebut dalam kehidupan manusia sehari-hari, maka lahirlah norma-norma sebaga dasar aturan dalam sistem sosial seperti berbagai pantangan dan ritual. Kepercayaan Alukta memiliki konsep hidup dan mati merupakan suatu proses yang bersinambung, sehingga tidak ada batasan yang tegas. Menurut dasar kepercayaan Alukta orang mati hanya dianggap mengalami perubahan wujud dan perpindahan alam dari fana ke maya (arwah). Menurut Alukta, penguburan pada umumnya berlangsung dalam dua tahap terutama bagi masyarakat yang berasal dari kelas bangsawan tinggi dan keluarga para bangsawan  (tanak bulaan dan tanak bassi). Tahap pertama (penguburan primer), yaitu penguburan yang bersifat sementara terutama kalau keluarga yang ditinggalkan belum siap mengadakan upacara pengorbanan (pesta kematian). Mayat dibalut dengan kain kemudian dimasukkan ke dalam keranda yang terbuat dari kayu dan ditempatkan di atas rumah (Tongkonan). Selama masa penguburan pertama tersebut mayat diperlakukan seperti orang yang masih hidup, karena masih dianggap sebagai orang yang sementara sakit. Orang dianggap betul-betul telah mati apabila proses upacara kematian telah selesai dilaksanakan. Tahap kedua (penguburan sekunder), yaitu  penguburan yang bersifat permanen yang dilakukan setelah selesainya proses upacara kematian dilakukan oleh para keluarga yang ditinggalkannya. Mayat yang tinggal kerangkanya dibalut ulang kemudian dimasukkan ke dalam keranda yang disebut erong bersama-sama dengan berbagai benda-benda berharga yang dimiliki pada masa hidupnya (bekal kubur), dan selanjutnya ditempatkan di kompleks pekuburan keluarga (Liang).  Mereka mempercayai bahwa kematian merupakan awal menuju kehidupan yang kekal. Itu sebabnya dalam budaya toraja dikenal ‘hidup manusia adalah untuk mati’. Artinya setelah mati, manusia akan menuju kehidupan yang lebih kekal dan abadi di nirwana (punya). Untuk mencapai nirwana (punya), seseorang harus memiliki bekal harta sebanyak-banyaknya. Nyawa orang yang meninggal juga akan diantar ke surga dengan pesta yang semarak dan meriah. Semakin banyak harta yang dibawa pada saat dia mati, makan semakin bahagia pula hidupnya di alam baka. Dari ilustrasi tersebut dikatakan bahwa perilaku keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Orang Toraja sampai kini dikenal memiliki kebiasaan menabung dan bersikap hidup hemat agar nantinya dapat menyelenggarakan upacara kematian yang sangat meriah. Mereka menganggap anak keturunan berkewajiban memperlakukan leluhurnya dengan baik sebab dengan begitu, sang leluhur juga akan melimpahkan rejeki dan menjaga keturunannya dengan baik pula.
A.      Wadah Kubur Kayu (Erong) Toraja
Sistem tentang adanya penguburan yang dilakukan pada orang yang telah meninggal sudah lama dikenal di Indonesia. Sistem penguburan yang tertua adalah sistem penguburan yang ditemukan oleh Van Heekeren tahun 1931 dan 1935. Ia menyebutkan sistem penguburan tersebut berasal dari zaman mesolitik. Lalu kemudian berkembang, dan dikenal berbagai macam sistem penguburan. Antaranya adalah sistem penguburan primer (primary burial) dan penguburan sekunder (secondary burial). Soejono sendiri membagi pola penguburan dengan pola I – IV. Pola I disebut dengan penguburan pertama (primary burial), meliputi satu atau dua mayat dengan beberapa sikap. Pola II disebut dengan penguburan kedua (secondary burial) dalam susunan bermacam-macam. Pola III adalah campuran antara pola I dan pola II. Pola IV adalah penguburan menggunakan tempayan (Widianto, dkk 1987:16 dalam Bernadeta, 1999:79).

Selain itu terdapat juga sistem penguburan dengan menggunakan wadah maupun tanpa wadah. Penguburan tanpa wadah yaitu sistem penguburan dengan meletakan mayat langsung di tempat penguburan, artinya mayat tidak dimasukan ke dalam wadah terlebih dahulu. Lalu, penguburan dengan menggunakan wadah yaitu sistem penguburan dengan memasukan mayat kedalam wadah dahulu sebelum nantinya diletakkan dit tempat penguburan. Sistem penguburan dengan wadah berkembang pesat pada budaya megalitik. Biasanya kuburan dengan menggunakan wadah berupa wadah kubur, yaitu kubur tempayan, kubur bangunan batu, bejana batu, dolmen, dan sarkopagus.
                                                                                                      
Pada masa lampau di Tana Toraja, wadah yang di pergunakan dalam penguburan adalah erong (peti dari kayu) untuk masyarakat yang berasal dari kelas bangsawan dan masyarakat biasa yang mampu secara ekonomis. Wadah erong pada masa lampau, bentuknya berbeda-beda sesuai dengan status sosialnya, yaitu bentuk perahu, bentuk kerbau dan bentuk babi.
B.      Deskripsi Situs Keranda (erong) Toraja
Di daerah Tana Toraja terdapat banyak situs keranda erong, namun yang menjadi sampel dalam bahasan ini adalah beberapa situs yang sangat terkenal, karena telah dijadikan sebagai objek wisata budaya bagi beberapa wisatawan negara maupun mancanegara.
·         Situs Marante Tondon (Rante Bolu)
Tondon Marante memiliki objek wisata berupa pemakaman gua alam dengan beberapa erong (peti  tua) juga patung-patung dan tongkonan khas Tana Toraja.  Situs Marante Tondon berada di Kampong Marante, Desa Tondok Batu, Kecamatan Tondon, Kabupaten Toraja Utara. Situs tersebut terletak di kaki bukit batu kapur (karst), menghadap ke arah utara, di hadapan situs terdapat aliran Sungai Sa’dan dengan jarak 20 m. Secara koordinat, situs ini terletak pada S02057’14,5”, E119055’58,4”, dengan ketinggian 830 m dari paras laut (dpl). Situs memanjang dari timur ke barat, dengan panjang sekitar 30 m, ketinggian tebing sekitar 18 m. Situs tersebut boleh sampai dengan menaiki kereta dan berjalan kaki. Di sekitar situs terdapat kebun, kandang babi, rumah penduduk, sekolah dasar, jalan kampong dan pengkebumian baharu. Keadaan Situs telah mengalami kerosakan akibat hakisan alam dan aktiviti manusia, terutama karena ceruk atau pun dasar ceruk digunakan sebagai pengkebumian baharu seperti  Liang Pa’ dan Patane. Penemuan keranda erong di situs tersebut sebanyak 11 buah, pada umumnya telah mengalami kerosakan. Hasil jumpaan pada situs tersebut telah menemui beberapa keranda erong berbentuk perahu sebanyak  sembilan buah, bentuk kerbau sebanyak dua buah manakala keranda erong berhias sebanyak lima buah dan dalam keadaan lengkap pula ialah sebanyak  empat buah.

·         Situs Lombok Bori
Situs Lombok Bori terletak di Kampung Lombok Bori, Desa Lembang Parinding, Kecamatan Sesean, Kabupaten Tana Toraja Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Situs tersebut dapat dicapai dengan naik kereta dan berjalan kaki sekitar 1 km, letaknya berada di dalam gua yang menghadap ke arah timur, dengan tinggi mulut gua 15m, lebar 58 m dan dalam 24 m. Letak astronomi adalah S02055’76,5”, E119054’26,9”,dengan ketinggian 825 m dpl. Jarak dari kampong  752 m, berada pada arah barat, dengan beda tinggi 25 m. Di bagian belakang gua terdapat gugusan pegunungan batu kapur (karst), Proses pembetukan Batu Simbuang (menhir batu/megalithikum) itu harus dengan melalui sebuah ritual yang cukup panjang. Yang pertama adalah dengan harus melakukan pencarian dan pengamatan batu calon simbuang. Kedua, kinerja, memahat untuk membentuk batu yang diinginkan. Serta yang ketiga adalah yang telah menyelesaikan penarikan batu tersebut. Setelah itu harus menumpuk batu di Rante (Tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalith. Sedangkan pada bagian depan gua terdapat kebun penduduk dan di sekitarnya terdapat tumbuh pohon nangka, mangga, bambu, jambu biji, uru, dan pohon bitti.
Keadaan Situs belum banyak terganggu karena agak jauh dari pemukiman penduduk, namun temuan erong telah banyak mengalami kerusakan, karena lapuk, dan dirusak oleh manusia. Bagian-bagian erong yang paling banyak mengalami kerusakan, adalah bagian tutup, karena lapuk dan banyak dicuri orang untuk diperjualbelikan sebagai barang antik. Demikian pula erong yang tergantung di atas dinding gua sudah jatuh dan berantakan di lantai gua, tulang-tulang dan tengkorak berserakan, sehingga letak erong tidak beraturan.
Temuan erong di Situs Lombok Bori dihitung yang utuh di atas 50 % sebanyak 108 buah, bentuk perahu 87, bentuk kerbau 17 dan bentuk babi 4, yang memiliki ragam hias 18, tidak berhias 90, yang lengkap 11 dan tidak lengkap 97. Pada umumnya yang tidak lengkap, hilang tutupnya dan bagian badan yang lapuk. Terdapat juga sisa tiang  di mulut gua pada sisi selatan, yang digunakan sebagai tempat menyimpan erong, dan pada dinding gua bagian atas terdapat lubang bekas-bekas menancapkan balok kayu, sebagai penyangga erong yang digantung. 
                                      Bentuk lantai gua terdiri dari dua teras, yaitu Teras I pada bagian dalam yang tersusun daru batu-batu kecil, Teras II di mulut gua (bagian luar) tersusun dari batu-batu kecil. Dari hasil pengamatan dapat direkonstruksi, bahwa erong bentuk perahu yang sederhana dan kecil-kecil serta bentuk babi terletak di Teras I, erong bentuk perahu yang berukuran besar dan bentuk kerbau, baik yang berhias maupun tidak berhias, terdapat di Teras II dan pada susunan tiang yang terletak di mulut gua sisi selatan. Sedangkan erong berbentuk perahu ukuran besar dan kaya dengan berbagai motif hias digantung di atas dinding gua. Tampaknya erong diletakkan dengan orientasi timur-barat, sesuai dengan orientasi gua. Sayang bahwa perhitungan jumlah erong yang terdapat pada masing-masing pembagian ruang tersebut tidak dapat lagi dihitiung secara pasti, karena telah mengalami perubahan tempat akibat terjadinya pelapukan, jatuh dan dipindah tempatkan oleh orang-orang pencari harta karun. Pengambilan sampel untuk analisis pentarikhan, diambil pada erong bentuk perahu dan kerbau, yang terletak pada sudut barat daya.
                                      Kerusakan bagian erong yang paling banyak terjadi yaitu pada bagian tutup, cepat mengalami patah dan pelapukan kibat kena hujan dan mata hari dan juga karena ukurannya tipis. Selain itu, bagian tutup banyak dicuri oleh para pencari barang antik karena bentuknya unik, penuh dengan ragam hias yang indah dan mudah untuk dipindah tempatkan untuk dibawah pergi jauh.
                                      Pada bagian dalam dari erong-erong yang terdapat di Situs tersebut, terisi oleh tumpukan tulan-belulang dan tengkorak yang tidak beraturan. Tampaknya tulang-tulang tersebut telah teraduk, akibat ulah para pencari harta karun yang mencari barang-barang antic yang biasanya menjadi bekal kubur dari orang yang dikebumikan. Menurut ceritera penduduk tempatan mengatakan bahwa barang-barang tersebut biasanya terdiri dari emas, perak, keramik dan mata uang, yang biasanya dijadikan sebagai bekal kubur. Temuan lain yang terdapat pada Situs tersebut, seperti dulang, fragmen gerabah, tulang dan tengkorak yang tersebar di sekitar Situs.
Temuan erong yang menarik pada Situs tersebut, adalah erong bentuk perahu dan bentuk kerbau yang berukuran besar. Terdapat beberapa erong bentuk perahu yang berukuran besar, memiliki banyak motif ragam hias Toraja pada seluruh bagian badan dan tutup yang lazim dikenal dalam budaya Toraja. Namun yang khas, adalah ragam hias naga, manusia yang menarik naga pada kedua belah tangannya, manusia yang menarik kerbau pada kedua belah tangannya. Erong bentuk kerbau, ada dalam ukuran kecil dan ada pula dalam ukuran besar, ada yang memiliki kaki dan ada yang tidak berkaki, ada yang memiliki ragam hias dan ada yang polos.
·         Situs Tampang Allo
                            Situs Tampang Allo berada di Kampong Tampang Allo, Desa Soroakung, Kecamatan Sangngallak, Kabupaten Tana Toraja. Situs tersebut boleh sampai dengan menaiki kereta dan berjalan kaki sekitar 800 m dari kampong tua yang berada di sebelah timur dengan beza ketinggian 5 m. Situs ini telah dijadikan sebagai objek pameran dan destinasi pelancongan sehingga sering dikunjungi oleh para pelancong. Situs ini terletak di dalam gua batu kapur (karst), dengan luas gua adalah lebar mulut gua 8 m, tinggi mulut gua 14 m, lebar lantai gua 24 m dan panjang 18 m. Terkoordinat adalah S03005’16,0”, E119054’10,1”, ketinggian 804 m dari paras laut, menghala ke arah selatan. Pada arah utara terdapat pergunungan kapur (karst) yang digunakan sebagai pengkebumian baharu, seperti liang Pak dan Patane. Pada arah selatan pula terdapat sawah dan kebun penduduk, di sekelilingnya tumbuh pokok buluh, pokok uru, pokok jati dan tanaman penduduk lain.
                                     
Di dalam gua, terdiri daripada dua teras bertingkat yang digunakan sebagai tempat meletakkan keranda erong, dan pada bahagian atap gua terdapat keranda erong yang digantung dengan menggunakan blok-blok kayu sebagai penyangga yang dikaitkan ke selah-selah batu. Cahaya dapat masuk ke dalam gua melalui pintu depan dan selah-selah batu karst, sehingga pada siang hari bahagian dalam gua agak terang. Sebahagian besar keranda erong sudah diubahsuai sehingga kelihatan baharu dan tidak berhias, namun masih ada beberapa keranda erong yang masih asli tetapi telah mengalami pereputan.
                                      Penemuan keranda erong di situs tersebut sejumlah 25 buah, orientasi ada yang utara–selatan dan ada yang timur-barat, semuanya berbentuk perahu yang mempunyai ukuran sedang sehingga ukuran besar. Semua keranda erong yang berukuran besar sejumlah lima buah, telah mengalami kerosakan  karena reput dan kaya dengan ragam hias, sedangkan keranda erong berukuran sedang sejumlah 20 buah dan sebahagian besarnya masih dalam keadaan kukuh karena telah diubahsuai dan tidak mempunyai ragam hias. Keranda erong ukuran besar yang terdapat di lantai gua, rupa-rupanya dahulu digantung di atas langit-langit gua, namun karena pengantungnya telah reput maka keranda erong tersebut jatuh ke dasar gua. Penemuan lain yang turut dijumpai adalah tau-tau, dulang, tulang, tengkorak, serpihan gerabah dan serpihan keranda erong.

Pada bahagian dalam keranda-keranda erong di situs tersebut, penuh berisi tulang dan tengkorak yang tidak tersusun. Kerosakan keranda erong nampak pada bahagian penutup dan sebahagian badannya karena telah mengalami pereputan. Keranda erong yang paling menarik adalah bentuk perahu  yang mempunyai ukuran besar dan kaya dengan pelbagai ragam hias, diantaranya ialah manusia berkepala kerbau menarik ular dan kerbau pada tangan kiri dan kanan.







    III.            Kesimpulan

Erong merupakan wadah kubur yang terbuat dari kayu yang kuat untuk diletakkan jenazah di dalamnya. Wadah erong menggunakan kayu nangka. Erong memilik bentuk yang beragam yaitu berbentuk perahu, lesung, kerbau, kuda, ular, babi, dan ayam. Erong digunakan sebagai penanda status sosial untuk golongan si mati. Erong diletakkan di Liang yang merupakan tebing tinggi, Suku Toraja memiliki anggapan semakin rumit erong itu diletakkan, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi strata sosialnya. Masyarakat Toraja juga mempercayai dengan memperlakukan orang mati dengan baik akan mendatangkan suatu kebaikan juga bagi orang yang masih hidup. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan Indonesia juga memiliki kepercayaan yang berbeda-beda yang sudah diwarisi leluhur mereka. Apapun agama, suku, budaya dana bahasa kita harus bisa menghormati kepercayaan mereka.










































DAFTAR PUSAKA



Sutardi, Tedi.  2007. Mengungkap Keragama Budaya. Bandung : PT. Setia Purna Inves
Budiman, Michaela. 2013. Contemporary Funeral Rituals of Sa’dan Toraja, DTP Karolinum
Akin Duli, Dr., M.A http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/2515/Peranan Budaya Erong dalam Sistem Kebudayaan Toraja

Akin Duli, Dr., M.A. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/9448/Persamaan Budaya Penguburan Erong di Tana Toraja Dengan Asia Tenggara Dan China Selatan