I.
Pendahuluan
Indonesia sangat dikenal dengan keanekaragaman suku, adat
isiadat dan budaya, semua itu dikarenakan Indonesia terdiri dari beberapa pulau
yang menyebar dari sabang hingga marauke. Indonesia sangat kaya akan budayanya,
salahnya masyarakat Indonesia justru jarang sekali mengenal dan mendalami
kekayaan budayanya sendiri. Masyarakat Indonesia justru akan lebih berbangga
hati jika mereka lebih mengenal kebudayaan luar negeri dibanding budaya mereka
sendiri. Budaya Indonesia yang sangat unik salah satunya adalah di tana toraja,
tana toraja sangat menarik bagi wisatawan yang berkunjung, dikarenakan tana
toraja memilik budaya-budaya yang sangat unik. Salah satunya adalah budaya
penguburan wadah kayu yang disebut erong
di tana toraja. Di tana toraja, Sulawesi
Selatan, tradisi megalitik masih berlanjut hingga sekarang. Tradisi megalitik
ialah secara etimologi berasal dari kata mega yang berarti besar dan lithos yang
berarti batu. Namun menurut F.A Wagner (1959) megalitik yang selama ini
diartikan sebagai batu besar, di beberapa tempat akan membawa konsep keliru,
objek batu yang lebih kecil dan bahan-bahan dari kayupun harus dimasukkan ke
dalam klasifikasi megalitik. Bila benda itu khas dipergunakan untuk tujuan yang
sakral yakni pemujaan terhadap nenek moyang (Wagner, Fritz A, 1959 dalam Somba,
1999:7). Kebanyakan dari masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan terhadap
hubungan antara yang hidup dengan yang mati yaitu para leluhur mereka. Banyak
tinggalan-tinggalan arkeologis yang merupakan tinggalan tradisi megalitik
tersebar di Tana Toraja seperti menhir, wadah kubur kayu, dan liang (tempat
penguburan). Tinggalan-tinggalan di tana toraja sendiri merupakan tinggalan
yang unik. Terutama sistem maupun lokasi penguburannya yang berada di tebing
yang dilubang dan bentuk dari wadah kubur kayunya yang sangat unik. Semuanya
tersebar hampir diseluruh wilayah Tana Toraja. Dengan persebarannya yang merata
dan memiliki keunikan tersendiri, kasus-kasus mengenai sistem penguburan,
tempat penguburan maupun wadah kuburnya merukapan sesuatu yang menarik untuk
dibahas. Kasus-kasus seperti keletakan
dari wadah kayu Toraja serta bagaimana kaitannya dengan konsep kepercayaan
masyarakat Toraja akan coba saya bahas pada makalah ini. Semua tentang bentuk
keranda erong masyarakat Toraja yang mendiami
Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Tana Toraja Utara. Hal yang membuat
saya sebagai penulis mengambil bahasan tersebut karena bentuk penguburan wadah
kayu yang hampir punar dikarnakan faktor alam dan faktor dari manusianya itu
sendiri.
II.
Pembahasan
Walaupun pada umumnya masyarakat suku Toraja saat ini sudah
menganut agama Kristen ataupun agama Islam. Tidak sedikit masyarakat yang
berada di Tana Toraja yang masih mempercayai kepercayaan yang disebut Aluk Tolodo atau alukta. Dasar
dari kepercayaan Alukta adalah
kepercayaan terhadap arwah leluhur, yaitu kepercayaan yang selalu berdasarkan
kepada hubungan antara yang hidup dan mati terutama kepercayaan akan adanya
pengaruh kuat dari orang yang telah mati terhadap keberhasilan dan
kesejahteraan orang yang masih hidup, demikian pula sebaliknya keselamatan
arwah di alam puya (arwah) sangat
ditentukan oleh perlakuan sesuai dengan aturan adat dari sanak-kerabat yang
ditinggalkannya. Sebagai implementasi dari kepercayaan tersebut dalam kehidupan
manusia sehari-hari, maka lahirlah norma-norma sebaga dasar aturan dalam sistem
sosial seperti berbagai pantangan dan ritual. Kepercayaan
Alukta memiliki konsep hidup dan mati merupakan suatu proses yang bersinambung,
sehingga tidak ada batasan yang tegas. Menurut dasar kepercayaan Alukta orang
mati hanya dianggap mengalami perubahan wujud dan perpindahan alam dari fana ke
maya (arwah). Menurut Alukta, penguburan pada umumnya berlangsung dalam dua tahap terutama bagi masyarakat
yang berasal dari kelas bangsawan tinggi dan keluarga para bangsawan (tanak
bulaan dan tanak bassi). Tahap
pertama (penguburan primer), yaitu penguburan yang bersifat sementara terutama
kalau keluarga yang ditinggalkan belum siap mengadakan upacara pengorbanan
(pesta kematian). Mayat dibalut dengan kain kemudian dimasukkan ke dalam
keranda yang terbuat dari kayu dan ditempatkan di atas rumah (Tongkonan). Selama masa penguburan
pertama tersebut mayat diperlakukan seperti orang yang masih hidup, karena
masih dianggap sebagai orang yang sementara sakit. Orang dianggap betul-betul
telah mati apabila proses upacara kematian telah selesai dilaksanakan. Tahap
kedua (penguburan sekunder), yaitu
penguburan yang bersifat permanen yang dilakukan setelah selesainya
proses upacara kematian dilakukan oleh para keluarga yang ditinggalkannya.
Mayat yang tinggal kerangkanya dibalut ulang kemudian dimasukkan ke dalam
keranda yang disebut erong
bersama-sama dengan berbagai benda-benda berharga yang dimiliki pada masa
hidupnya (bekal kubur), dan selanjutnya ditempatkan di kompleks pekuburan
keluarga (Liang). Mereka mempercayai bahwa kematian
merupakan awal menuju kehidupan yang kekal. Itu sebabnya dalam budaya toraja
dikenal ‘hidup manusia adalah untuk mati’. Artinya setelah mati, manusia akan
menuju kehidupan yang lebih kekal dan abadi di nirwana (punya). Untuk mencapai
nirwana (punya), seseorang harus memiliki bekal harta sebanyak-banyaknya. Nyawa
orang yang meninggal juga akan diantar ke surga dengan pesta yang semarak dan
meriah. Semakin banyak harta yang dibawa pada saat dia mati, makan semakin
bahagia pula hidupnya di alam baka. Dari ilustrasi tersebut dikatakan bahwa
perilaku keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Orang Toraja sampai kini dikenal
memiliki kebiasaan menabung dan bersikap hidup hemat agar nantinya dapat
menyelenggarakan upacara kematian yang sangat meriah. Mereka menganggap anak
keturunan berkewajiban memperlakukan leluhurnya dengan baik sebab dengan
begitu, sang leluhur juga akan melimpahkan rejeki dan menjaga keturunannya
dengan baik pula.
A. Wadah Kubur Kayu (Erong) Toraja
Sistem tentang adanya penguburan yang
dilakukan pada orang yang telah meninggal sudah lama dikenal di Indonesia.
Sistem penguburan yang tertua adalah sistem penguburan yang ditemukan oleh Van
Heekeren tahun 1931 dan 1935. Ia menyebutkan sistem penguburan tersebut berasal
dari zaman mesolitik. Lalu kemudian berkembang, dan dikenal berbagai macam
sistem penguburan. Antaranya adalah sistem penguburan primer (primary burial)
dan penguburan sekunder (secondary burial). Soejono sendiri membagi pola
penguburan dengan pola I – IV. Pola I disebut dengan penguburan pertama (primary
burial), meliputi satu atau dua mayat dengan beberapa sikap. Pola II
disebut dengan penguburan kedua (secondary burial) dalam susunan bermacam-macam.
Pola III adalah campuran antara pola I dan pola II. Pola IV adalah penguburan
menggunakan tempayan (Widianto, dkk 1987:16 dalam Bernadeta, 1999:79).
Selain itu terdapat juga sistem penguburan
dengan menggunakan wadah maupun tanpa wadah. Penguburan tanpa wadah yaitu
sistem penguburan dengan meletakan mayat langsung di tempat penguburan, artinya
mayat tidak dimasukan ke dalam wadah terlebih dahulu. Lalu, penguburan dengan
menggunakan wadah yaitu sistem penguburan dengan memasukan mayat kedalam wadah
dahulu sebelum nantinya diletakkan dit tempat penguburan. Sistem penguburan
dengan wadah berkembang pesat pada budaya megalitik. Biasanya kuburan dengan
menggunakan wadah berupa wadah kubur, yaitu kubur tempayan, kubur bangunan
batu, bejana batu, dolmen, dan sarkopagus.
Pada
masa lampau di Tana Toraja, wadah yang di pergunakan dalam penguburan adalah erong (peti dari kayu) untuk masyarakat yang berasal
dari kelas bangsawan dan masyarakat biasa yang mampu secara ekonomis. Wadah erong pada masa lampau, bentuknya
berbeda-beda sesuai dengan status sosialnya, yaitu bentuk perahu, bentuk kerbau
dan bentuk babi.
B. Deskripsi Situs
Keranda (erong) Toraja
Di daerah Tana
Toraja terdapat banyak situs keranda erong,
namun yang menjadi sampel dalam bahasan ini adalah beberapa situs yang sangat terkenal, karena telah dijadikan sebagai objek wisata budaya bagi
beberapa wisatawan negara maupun mancanegara.
·
Situs
Marante Tondon (Rante Bolu)
Tondon
Marante memiliki objek wisata berupa pemakaman gua alam dengan beberapa erong
(peti tua) juga patung-patung dan
tongkonan khas Tana Toraja. Situs Marante Tondon berada di Kampong Marante, Desa
Tondok Batu, Kecamatan Tondon, Kabupaten Toraja Utara. Situs tersebut terletak
di kaki bukit batu kapur (karst), menghadap ke arah utara, di hadapan situs
terdapat aliran Sungai Sa’dan dengan jarak 20 m. Secara koordinat, situs ini
terletak pada S02057’14,5”, E119055’58,4”, dengan
ketinggian 830 m dari paras laut (dpl). Situs memanjang dari timur ke barat,
dengan panjang sekitar 30 m, ketinggian tebing sekitar 18 m. Situs tersebut
boleh sampai dengan menaiki kereta dan berjalan kaki. Di sekitar situs terdapat
kebun, kandang babi, rumah penduduk, sekolah dasar, jalan kampong dan
pengkebumian baharu. Keadaan Situs telah mengalami kerosakan akibat hakisan
alam dan aktiviti manusia, terutama karena ceruk atau pun dasar ceruk digunakan
sebagai pengkebumian baharu seperti Liang Pa’ dan Patane. Penemuan keranda erong
di situs tersebut sebanyak 11 buah, pada umumnya telah mengalami kerosakan. Hasil
jumpaan pada situs tersebut telah menemui beberapa keranda erong
berbentuk perahu sebanyak sembilan buah,
bentuk kerbau sebanyak dua buah manakala keranda erong berhias sebanyak lima buah dan dalam keadaan lengkap pula
ialah sebanyak empat buah.
·
Situs
Lombok Bori
Situs Lombok
Bori terletak di Kampung Lombok Bori, Desa Lembang Parinding, Kecamatan Sesean,
Kabupaten Tana Toraja Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Situs tersebut dapat
dicapai dengan naik kereta dan berjalan kaki sekitar 1 km, letaknya berada di
dalam gua yang menghadap ke arah timur, dengan tinggi mulut gua 15m, lebar 58 m
dan dalam 24 m. Letak astronomi adalah S02055’76,5”, E119054’26,9”,dengan
ketinggian 825 m dpl. Jarak dari kampong
752 m, berada pada arah barat, dengan beda tinggi 25 m. Di bagian
belakang gua terdapat gugusan pegunungan batu kapur (karst), Proses pembetukan Batu Simbuang (menhir batu/megalithikum)
itu harus dengan melalui sebuah ritual yang cukup panjang. Yang pertama adalah
dengan harus melakukan pencarian dan pengamatan batu calon simbuang. Kedua,
kinerja, memahat untuk membentuk batu yang diinginkan. Serta yang ketiga adalah
yang telah menyelesaikan penarikan batu tersebut. Setelah itu harus menumpuk
batu di Rante (Tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100
buah menhir/megalith. Sedangkan pada
bagian depan gua terdapat kebun penduduk dan di sekitarnya terdapat tumbuh
pohon nangka, mangga, bambu, jambu biji, uru,
dan pohon bitti.
Keadaan Situs
belum banyak terganggu karena agak jauh dari pemukiman penduduk, namun temuan erong telah banyak mengalami kerusakan,
karena lapuk, dan dirusak oleh manusia. Bagian-bagian erong yang paling banyak mengalami kerusakan, adalah bagian tutup,
karena lapuk dan banyak dicuri orang untuk diperjualbelikan sebagai barang
antik. Demikian pula erong yang
tergantung di atas dinding gua sudah jatuh dan berantakan di lantai gua,
tulang-tulang dan tengkorak berserakan, sehingga letak erong tidak beraturan.
Temuan erong
di Situs Lombok Bori dihitung yang utuh di atas 50 % sebanyak 108 buah, bentuk
perahu 87, bentuk kerbau 17 dan bentuk babi 4, yang memiliki ragam hias 18,
tidak berhias 90, yang lengkap 11 dan tidak lengkap 97. Pada umumnya yang tidak
lengkap, hilang tutupnya dan bagian badan yang lapuk. Terdapat juga sisa tiang di mulut gua pada sisi selatan, yang
digunakan sebagai tempat menyimpan erong, dan pada dinding gua bagian atas
terdapat lubang bekas-bekas menancapkan balok kayu, sebagai penyangga erong yang digantung.
Bentuk
lantai gua terdiri dari dua teras, yaitu Teras I pada bagian dalam yang
tersusun daru batu-batu kecil, Teras II di mulut gua (bagian luar) tersusun
dari batu-batu kecil. Dari hasil pengamatan dapat direkonstruksi, bahwa erong bentuk perahu yang sederhana dan
kecil-kecil serta bentuk babi terletak di Teras I, erong bentuk perahu yang berukuran besar dan bentuk kerbau, baik
yang berhias maupun tidak berhias, terdapat di Teras II dan pada susunan tiang
yang terletak di mulut gua sisi selatan. Sedangkan erong berbentuk perahu ukuran besar dan kaya dengan berbagai motif
hias digantung di atas dinding gua. Tampaknya erong diletakkan dengan orientasi timur-barat, sesuai dengan
orientasi gua. Sayang bahwa perhitungan jumlah erong yang terdapat pada masing-masing pembagian ruang tersebut
tidak dapat lagi dihitiung secara pasti, karena telah mengalami perubahan
tempat akibat terjadinya pelapukan, jatuh dan dipindah tempatkan oleh
orang-orang pencari harta karun. Pengambilan sampel untuk analisis pentarikhan,
diambil pada erong bentuk perahu dan kerbau, yang terletak pada sudut barat
daya.
Kerusakan
bagian erong yang paling banyak
terjadi yaitu pada bagian tutup, cepat mengalami patah dan pelapukan kibat kena
hujan dan mata hari dan juga karena ukurannya tipis. Selain itu, bagian tutup
banyak dicuri oleh para pencari barang antik karena bentuknya unik, penuh
dengan ragam hias yang indah dan mudah untuk dipindah tempatkan untuk dibawah
pergi jauh.
Pada
bagian dalam dari erong-erong yang
terdapat di Situs tersebut, terisi oleh tumpukan tulan-belulang dan tengkorak
yang tidak beraturan. Tampaknya tulang-tulang tersebut telah teraduk, akibat
ulah para pencari harta karun yang mencari barang-barang antic yang biasanya
menjadi bekal kubur dari orang yang dikebumikan. Menurut ceritera penduduk
tempatan mengatakan bahwa barang-barang tersebut biasanya terdiri dari emas,
perak, keramik dan mata uang, yang biasanya dijadikan sebagai bekal kubur.
Temuan lain yang terdapat pada Situs tersebut, seperti dulang, fragmen gerabah,
tulang dan tengkorak yang tersebar di sekitar Situs.
Temuan erong yang menarik pada Situs tersebut,
adalah erong bentuk perahu dan bentuk
kerbau yang berukuran besar. Terdapat beberapa erong bentuk perahu yang berukuran besar, memiliki banyak motif
ragam hias Toraja pada seluruh bagian badan dan tutup yang lazim dikenal dalam
budaya Toraja. Namun yang khas, adalah ragam hias naga, manusia yang menarik
naga pada kedua belah tangannya, manusia yang menarik kerbau pada kedua belah
tangannya. Erong bentuk kerbau, ada
dalam ukuran kecil dan ada pula dalam ukuran besar, ada yang memiliki kaki dan
ada yang tidak berkaki, ada yang memiliki ragam hias dan ada yang polos.
·
Situs
Tampang Allo
Situs Tampang Allo berada di Kampong Tampang Allo, Desa
Soroakung, Kecamatan Sangngallak, Kabupaten Tana Toraja. Situs tersebut boleh
sampai dengan menaiki kereta dan berjalan kaki sekitar 800 m dari kampong tua
yang berada di sebelah timur dengan beza ketinggian 5 m. Situs ini telah
dijadikan sebagai objek pameran dan destinasi pelancongan sehingga sering
dikunjungi oleh para pelancong. Situs ini terletak di dalam gua batu kapur (karst), dengan luas gua adalah lebar
mulut gua 8 m, tinggi mulut gua 14 m, lebar lantai gua 24 m dan panjang 18 m.
Terkoordinat adalah S03005’16,0”, E119054’10,1”,
ketinggian 804 m dari paras laut, menghala ke arah selatan. Pada arah utara
terdapat pergunungan kapur (karst)
yang digunakan sebagai pengkebumian baharu, seperti liang Pak dan Patane. Pada
arah selatan pula terdapat sawah dan kebun penduduk, di sekelilingnya tumbuh
pokok buluh, pokok uru, pokok jati
dan tanaman penduduk lain.
Di dalam gua, terdiri daripada dua teras bertingkat yang
digunakan sebagai tempat meletakkan keranda erong,
dan pada bahagian atap gua terdapat keranda erong
yang digantung dengan menggunakan blok-blok kayu sebagai penyangga yang
dikaitkan ke selah-selah batu. Cahaya dapat masuk ke dalam gua melalui pintu
depan dan selah-selah batu karst, sehingga pada siang hari bahagian dalam gua
agak terang. Sebahagian besar keranda erong
sudah diubahsuai sehingga kelihatan baharu dan tidak berhias, namun masih ada
beberapa keranda erong yang masih asli tetapi telah mengalami pereputan.
Penemuan keranda erong di situs tersebut sejumlah 25
buah, orientasi ada yang utara–selatan dan ada yang timur-barat, semuanya
berbentuk perahu yang mempunyai ukuran sedang sehingga ukuran besar. Semua
keranda erong yang berukuran besar
sejumlah lima buah, telah mengalami kerosakan
karena reput dan kaya dengan ragam hias, sedangkan keranda erong berukuran sedang sejumlah 20 buah
dan sebahagian besarnya masih dalam keadaan kukuh karena telah diubahsuai dan
tidak mempunyai ragam hias. Keranda erong ukuran besar yang terdapat di
lantai gua, rupa-rupanya dahulu digantung di atas langit-langit gua, namun
karena pengantungnya telah reput maka keranda erong tersebut jatuh ke
dasar gua. Penemuan lain yang turut dijumpai adalah tau-tau, dulang, tulang, tengkorak, serpihan gerabah dan serpihan
keranda erong.
Pada bahagian dalam
keranda-keranda erong di situs
tersebut, penuh berisi tulang dan tengkorak yang tidak tersusun. Kerosakan
keranda erong nampak pada bahagian
penutup dan sebahagian badannya karena telah mengalami pereputan. Keranda erong yang paling menarik adalah bentuk
perahu yang mempunyai ukuran besar dan
kaya dengan pelbagai ragam hias, diantaranya ialah manusia berkepala kerbau
menarik ular dan kerbau pada tangan kiri dan kanan.
III.
Kesimpulan
Erong
merupakan wadah kubur yang terbuat dari kayu yang kuat untuk diletakkan jenazah
di dalamnya. Wadah erong menggunakan kayu nangka. Erong memilik bentuk yang
beragam yaitu berbentuk perahu, lesung, kerbau, kuda, ular, babi, dan ayam.
Erong digunakan sebagai penanda status sosial untuk golongan si mati. Erong
diletakkan di Liang yang merupakan tebing tinggi, Suku Toraja memiliki anggapan
semakin rumit erong itu diletakkan, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
strata sosialnya. Masyarakat Toraja juga mempercayai dengan memperlakukan orang
mati dengan baik akan mendatangkan suatu kebaikan juga bagi orang yang masih
hidup. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan Indonesia juga
memiliki kepercayaan yang berbeda-beda yang sudah diwarisi leluhur mereka.
Apapun agama, suku, budaya dana bahasa kita harus bisa menghormati kepercayaan
mereka.
DAFTAR PUSAKA
Sutardi, Tedi.
2007. Mengungkap Keragama Budaya. Bandung : PT. Setia Purna Inves
Budiman, Michaela. 2013. Contemporary Funeral
Rituals of Sa’dan Toraja, DTP Karolinum
Akin Duli, Dr., M.A http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/2515/Peranan
Budaya Erong dalam Sistem Kebudayaan Toraja
Akin Duli, Dr., M.A. http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/9448/Persamaan Budaya
Penguburan Erong di Tana Toraja Dengan Asia Tenggara Dan China Selatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar